Silent Lover
Sebuah aroma khas tercium oleh indra penciumanku disepanjang perjalanan menuju rumah seseorang yang dulu namanya pernah kusimpan rapat dalam hati. Aroma itu kembali membangkitkan kisah pilu cinta bertepuk sebelah tangan semasa sekolah. Hal yang membuat seorang anak remaja perempuan yang gemar berpenampilan sok gagah dan pemberani yang berubah menjadi manis dan feminim.
Bermula pada percakapan sewaktu pergantian pelajaran di kelas bawah aku mulai sadar bahwa aku menyukaimu. Aku mulai mudah malu-malu jika berhadapan denganmu. Tanganku
dingin, dan jantungku rasanya ingin copot, dag dig dug. Memori itu tak akan
pernah bisa terhapus dari ingatanku. Bagaimana bisa aku lupa tentang kesan
pertama kali senyum indah itu terkembang di wajah bulatmu dan gelak tawamu yang
menggema ketika lelucon klasik grup sudut kanan terlontarkan? "Ah kau ini,
selalu saja sukses membuatku senyam-senyum sendiri, seperti sekarang ini",
gumamku.
Segala tingkah
laku, diam atau cerewet, atau tawa dan marahmu dengan sigap kupotret dan
kubingkai dalam ingatanku. Ingin rasanya mengulang kisah itu. Walaupun pahit
juga kurasa karena rasa suka padamu yang hanya bisa kupendam rapat-rapat,
sendirian. Tapi aku bahagia karena masih bisa dekat. Kuharap begitu.
Sepotong ucapanmu yang selalu terngiang olehku adalah "...jadilah wanita
seutuhnya". Ucapan itu seolah menamparku yang tidak bisa berkata pelan dan
berpenampilan menawan. Dan bodohnya aku yang haus perhatianmu ini malah dengan
secepat kilat berubah menjadi yang ia katakan. Tapi aku gagal. Aku tak bisa.
Tepatnya belum bisa. Mungkin jiwaku tahu dan mencoba mencegahku agar tak
ceroboh hanya karena asmara yang tak seberapa perlunya. Namun aku tetap setia
menaruh rasa.
Dan kemudian aku
kembali menjadi aku yang kasar, dan slengean. Aku seperti tahu kalau perubahan
itu tak baik jika aku menetapkannya semata-mata agar kau mau melirikku. Aku
kembali pada posisi dan porsiku, yakni seorang teman sekelas yang sedang
menganggumimu diam-diam. Maka aku bertingkah seolah tak ada rasa apa-apa.
Lihatlah betapa lihai aku berakting tentang menutup rasa yang kian menyiksa.
Aku selalu ingin punya banyak waktu denganmu dan tahu lebih banyak tentangmu.
Namun ada kesalahan fatal yang kubuat. Aku masuk ke dalam jurang yang kugali
sendiri. Aku jatuh kedalam genggaman tangan orang lain. Orang yang sama sekali
tak pernah kuingini. Meski begitu rasaku padamu tetap sama, tak berubah hingga
selesai kisah ini kutulis. Dari kesalahan itu sebuah hubungan terjalin cukup lama.
Yang kusayangkan adalah hubungan itu terjalin bukan denganmu.
Singkatnya begini, aku menyesal atas tragedi bersatunya dua insan hanya karena sebuah candaan. Meski ketika kandas aku sedih juga sih, ya mau bagaimana lagi? Sejak
saat itu aku menjadi betah dalam kesendirian dan menjadi penyuka tragic drama.
Padahal semua ini belum ada apa-apanya, toh aku belum begitu berpengalaman
dalam percintaan. "Cinta itu apasih? Yang kutahu hanyalah aku telah lama
menyimpan rasa untukmu dari kita kelas IX", gerutuku.
Aroma itu semakin menguat ketika aku sampai di halaman rumahmu. "Sudah
lama sekali aku tidak kesini", pikirku. Itu artinya aku mampir ke rumah
ini setelah kelulusan, berarti sekitar 7 tahun yang lalu, namun perjumpaan
terakhir kira-kira 2 tahun yang lalu. Oh ya ampun, lihat betapa telah dewasanya
kita. Berjalan memikul beban dan taggung jawab masing-masing. Tak banyak
memiliki waktu bercengkrama lagi selain rutinitas berkunjung setiap setahun
sekali ini.
Kemudian langkah kakiku dengan mantap kuarahkan masuk dan kemudian duduk di
ruang tamu itu setelah kamu persilakan. Lihat, lihat dirimu yang kian mendewasa
dengan tubuh yang gagah meski wajahmu lelah sepulang bekerja. Maaf jika
kedatanganku mengganggu istirahatmu ya.
Tak banyak obrolan yang melibatkan aku dan kamu. Mungkin topik yang kita pilih
tak menggugah. Untungnya aku terselamatkan oleh teman-teman lain yang juga ikut
bertamu. "Oh Tuhan, ampuni aku jika aku terlalu sering curi-curi pandang
terhadapnya", gumamku. Sudah lama wajah bulat nan imut itu yang kini telah
berubah ditumbuhi brewok halus itu tak terekam olehku. Biarlah aku kumpulkan di
galeri ingatanku sebanyak-banyaknya sebelum waktu habis berputar dan menyuruhku
pulang.
Sungguh banyak sebenarnya yang ingin kudiskusikan denganmu. Tentang bagaimana
hari-harimu, tentang apakah kamu telah menjalin kasih dengan wanita yang kamu
ceritakan waktu itu. Oh, banyak sekali, namun harus kutahan. Aku tak punya
cukup keberanian untuk berkata-kata. Menatapmu lekat saja aku tak sanggup. Aku
takut rasa yang meluap-luap ini ketahuan. Aku tak mau jika kebiasaanku
berimajinasi tentang memiliki hidup menua bersamamu membuatku seperti orang
kerasukan disana. Ya, aku selalu mengimpikan untuk bisa disatukan denganmu.
Entah kenapa aku selalu optimis dengan ilusi yang satu ini, atau memang ini
adalah kebodohanku yang hakiki karena telah buta menaruh rasa suka sekian lama?
Salahkah aku menyukaimu?
Sekarang aroma itu benar-benar merasukiku. "Gawat, bisa kebawa mimpi
beneran ini kalo keterusan", pikirku. Hampir dua jam kita menghabiskan
waktu bertukar cerita. Oh sebentar, aku tak banyak bercerita aku hanya
menghabiskan waktu mendengar cerita sembari menenangkan gemuruh di dada setiap
kali manik hitamku mendarat tepat dimanikmu. "Aduh, kenapa sih ini gak
selo benget dag dig dug nya?", gumamku. Tapi benar saja, melihatmu pada akhirnya
membuatku tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati karena masih ada
kesempatan untuk ditemukan lagi dalam keadaan kita yang masih sendiri-sendiri.
Setelah sampai pada waktunya, akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri pertemuan
ini. Selain sudah larut karena tak baik perempuan pulang terlalu malam, ini
juga tak baik untuk kesehatan hati dan pikiranku. "Bisa-bisa aku jadi
betah, ini gak boleh dibiasakan. Haha. Cukup aku saja yang kepedean dengan
segala imajinasiku yang tahu", pikirku.
Dalam perjalanan
pulang meski diterpa angin malam, aromamu malah semakin menguat. Aku sesekali
benar-benar menghidu aromamu lekat-lekat. Seakan tak ingin aroma itu hilang.
Hal ini membuatku tak begitu melajukan gerak kendaraanku. Sehingga para
pengendara lainnya pasti sesekali melihatku yang senyam-senyum dan terkadang
berdialog sendiri. Haha.
Ketika telah sampai di rumah, kuceritakan semua yang kulalui pada ibuku. Namun
tentangku yang teramat menyukaimu tak begitu kuceritakan. Aromamu yang tinggal
sekilas masih mampu kuhirup di sekitar pakaianku. Semoga kamu selalu baik-baik
saja ya. Juga semoga masih ada pertemuan lainnya untukku. Sebab kamu ada
dintara banyak hal yang senantiasa kupinta padaNya melalui sujudku. Tak pernah
bosan aku memintaNya untuk bisa menjadikanmu bagian dari kisah kasih hingga aku
senja nanti. Kalau pun tidak bisa, semoga aku diberikan keberanian untuk
mengungkapkan kepadamu segala rasa yang telah kupendam sejak lama ini pada
waktunya nanti. Dan untuk saat ini, aku masih rela dan setia menunggu kejaiban
itu akan terjadi.

Komentar
Posting Komentar