Right Person Wrong Time
"Timing is everything", begitulah kira-kira poin kisah kita. Saat itu semesta mempertemukan kita dalam pertemuan yang penuh dengan kemungkinan kecil kesempatan. Aku menyukaimu setengah gila, dan kau menyukaiku seadanya. Aku rela memendamnya sendirian dan ternyata kamu juga. Tapi... kau cepat mengambil keputusan untuk mematikan api cinta yang menurutmu bisa membakarmu habis-habisan. Kau pintar soal perasaan karena logikamu ikut berperan. Namun tidak denganku, yang terus menambah cadangan rasa agar api cinta itu terus menyala meski aku hampir ikut terbakar. Logikaku kalah dengan perasaanku.
Kau marah karna melihatku dengan yang lain. Aku pun marah karena aku tak bisa menolak dan juga karena bukan kamu yang bersamaku. Kita sama-sama kecewa dengan kenyataan, tapi kau lebih dulu mengalah. Setelah aku tak bersama yang lain kau menutup rapat perasaanmu dan aku juga menutup perasaanku rapat-rapat ke orang selain kamu.
Waktu berlalu dan api cintamu telah padam. Kau telah merapikan hampir seluruh bagian perapian itu meski kau menjadi dingin dan hampa untuk beberapa saat hingga kemudian kau dipertemukan dengan dia. Dia yang mampu membuatmu menyalakan api lagi, meski harus padam lagi. Namun saat itu kau telah berani mengatakan isi hatimu dengannya, tidak denganku karena bagimu tentangku telah berlalu. Hal ini membuatmu mampu mencoba menyalakan rasa lagi dengan orang lainnya lagi yang kau pilih. Tapi kali ini aku tak tau akhirnya, tak akan tau.
Beberapa saat kemudian, aku benar-benar terbakar. Api cintaku menggerogoti raga dan perasaan yang kian rapuh menunggu segala kesempatan yang tak kunjung menghampiri. Dengan segalanya yang ku mulai sendiri, maka aku harus menghentikannya sendiri. Dan dengan ini, kuredam segala ego yang selama ini menahun membiarkan aku terbakar dan terjatuh sendirian untuk melepasnya. I give you my confession.
Lega... Tapi kau ikut berkata "Aku juga ingin lega", yang membuat legaku jadi tertahan sebentar. "Aku akan bilang, dalam satu minggu ini dari sekarang", begitu kira-kira kamu bilang selanjutnya. Gantung. Keadaanku gantung. Dan ketika itu banyak hal berkecamuk di perasaan dan pikiranku.
Lalu, tiga hari kemudian kau datang lagi menjelaskan semuanya. Betapa ternyata kita sama-sama memiliki rasa tapi kita bungkam, ditambah semesta tak memihak. Tapi kau tak bertahan lama, kau mematikannya. Sedangkan aku menahannya agar terus menyala. Meski rasa kita pernah ada, tapi perjuangan kita tak sama.
Kau bilang padaku, "Kamu datang di saat aku sedang berusaha dengan yang lain. Dan di beberapa hari kemarin aku berusaha menghidupkan rasa itu kembali tapi tak berhasil. Rasa kita tidak akan lebih, dan keadaan kita akan tetap seperti ini". Aku menolak keadaan, tangisku pecah. Ego kembali kutarik dan kujadikan tempat berlindung. "Kenapa tidak kamu datang lagi saja setelah itu, dulu?", kataku. "Ternyata kamu belum sepenuhnya mengerti. Rasaku sudah tak sama lagi setelahnya", jawabmu.
Aku mencoba menerima kalau situasi dan keadaan telah lama berbeda. Tapi jika kau meminta agar secepatnya rasa ini padam terhadapmu, maaf aku tak bisa. Setelah apa yang kulewati selama ini, meskipun hanya kurasakan sendirian, aku pernah bahagia karenanya. Mungkin belum ada kesempatan kau melihatku sekali lagi dengan sungguh menyukaimu. Mungkin belum ada kesempatan yang didalamnya terdapat pertemuan-pertemuan yang banyak melibatkan kita.
Kau jatuh hati padaku karena kita banyak melewati hal-hal bersama yang singkat, dan setelah kita berpisah dari momen-momen itu, hatimu pun beralih. Tapi aku jatuh hati padamu karena aku memang dengan sungguh meletakkannya padamu bukan hanya karena canda tawa yang kita miliki dulu, dan bukan pula karna hal-hal singkat yang kau anggap, namun karena aku benar-benar merasa kaulah yang tepat untukku. Itulah kenapa hingga perpisahan terjadi aku masih sanggup memelihara rasa itu hingga saat ini.
Aku ingin kita punya kesempatan sekali lagi, untuk bertemu menghabiskan waktu dan akan kubuat kau jatuh hati padaku lagi. Tetapi jika memang kesempatan itu tak pernah ada lagi, kuharap aku bisa melepas segala tentangmu dengan hati yang lapang. Terima kasih pernah menyukaiku, dulu. Dan aku tak pernah menyesal menyukaimu selama itu. Kini kuserahkan padaNya sang penggenggam cinta tentang bagaimana selanjutnya. Apakah di akhir akan ada kita dalam satu tujuan perjalanan atau berjalan dengan masing-masing tujuan. "Jangan buang-buang lagi waktumu", begitu katamu sebagai akhir kisah ini.
Waktu akan menjawab dan mengarahkan perjalanan baru masing-masing kita. Dan dengan apa yang telah terjadi aku akan mecoba memperbarui segala rasa yang ada, meski jauh disini aku masih tetap mencintaimu sampai waktu berkata "Inilah saatnya untuk berhenti", sampai waktu menunjukkan "Inilah seseorang yang akan membuatmu bahagia lagi".
Terima kasih atas rasa dan hadirmu. Aku pernah menjadi cintamu, dan kau masih menjadi satu-satunya yang tersimpan lekat dihatiku. Kita hanya belum memiliki kesempatan pada waktu yang tepat.
Komentar
Posting Komentar