The Confession


"Aku pernah jatuh hati pada seseorang begitu lama, begitu dalam. Aku mengenalnya cukup baik sebagai seorang teman, namun aku menginginkan lebih. Aku begitu ingin bisa berada didekatnya, namun aku tak mampu menjangkaunya"

Pernahkah kau melihat seseorang yang begitu kau inginkan namun kau tak melihat ada akhir disana. Seperti itulah aku melihatmu selama ini.

Dahulu, di satu waktu, saat aku dan kau masih berkutat dalam urusan studi, aku mencoba memperhatikanmu lebih seksama. Kau terlihat tak banyak memunculkan tanda-tanda bahwa  tertarik pada hal-hal romansa. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menyukaimu diam-diam dan menyimpan rasa itu sendirian. Namun semakin lama rasa itu kusimpan untukmu, semakin kuat ia melekat. 

Mengapa aku memilih bersembunyi dibalik perasaan itu? Karena aku takut kau menjauh. Hingga akhirnya tak pernah terbesit dipikiranku untuk menyatakan apa yang sesungguhnya aku rasakan terhadapmu.

Pengakhiran masa studi ditandai dengan adanya seremoni kelulusan yang juga memperjelas bahwa sudah saatnya aku untuk melepaskan perasaan terhadapmu. Melupakan segala hal fana yang sengaja kuciptakan sendiri, yang tentu saja membuatku sakit sendiri. Tapi itu tak mudah, malah rasa itu semakin membuncah. 

Perpisahan saat kelulusan itu membuatku berharap akan ada kesempatan untukku menghabiskan waktu bersamamu, tapi ternyata aku hanya mampu melihatmu dikejauhan. Aku tak punya momen bersamamu. Payah sekali aku. Tetapi aku yakin suatu saat aku akan ada kesempatan, entah dalam hal apa, tapi itu pasti ada hubungannya denganmu. 

Hari berganti minggu, dan minggu berganti tahun. Masing-masing kita beranjak dewasa, menata kehidupan dengan lebih pantas. Sebagai pria, kau tentu bekerja, dan aku bangga terhadap pilihanmu. Sedangkan aku, melanjutkan studi menggapai cita dengan cinta terpendam.

Komunikasi aku dan kau masih baik keadaannya. Beberapa waktu itu kita saling bercerita tentang siapa yang sedang dicintai kala itu. Kau begitu bersemangat bercerita mengenai wanitamu dan aku diseberang sana merasakan dada yang agak mengilu karena pujaan hatiku akhirnya menemukan pujaan hatinya yang bukan aku. Tentu aku tak mau kalah, aku juga bercerita tentang seseorang agar aku terlihat baik-baik saja, agar kita tetap dalam satu obrolan. Tapi tahukah kau, rasaku pada orang baru ini tak pernah bisa begitu dalam sedalam rasaku kepadamu.

Setelahnya, aku selalu penasaran dengan wanita yang sanggup membuatmu jatuh hati. Kuakui si wanita begitu anggun, tak sepertiku. Aku mengutuk diri, "Mengapa aku tak bisa sepertinya? Hingga harusnya kau jadi jatuh hati padaku saja". Kemudian aku mulai mencoba merelakannya meskipun egoku menahan untuk itu. Aku masih menyukaimu, dan menjadi sangat amat menyukaimu setelah itu. Rasa itu semakin hebat, aku tak tau mengapa.

Hingga di satu periode waktu, sepanjang setahun itu, aku menjadi sangat kacau. Benar-benar kacau. Studiku berantakkan, fokusku pecah, aku menjadi hilang arah. Hal ini memperjelas kondisi alam bawah sadarku yang telah lebih dulu porak-poranda. Kau versi ciptaanku yang hanya halusinasi makin giat muncul ditiap waktu lenggangku, semakin sering membuatku susah tidur. Ada ngilu yang terasa, tapi tak tau bagaimana meredakannya.

Aku butuh kesempatan untuk bisa menemuimu dengan senyata-nyatanya kamu, entah dalam kondisi apapun itu. Dan di pertengahan tahun yang sama, kesempatan itu ada karena memang ini adalah tradisi kita. Tak ada hal berarti disana, tapi bagiku itu sangat amat berkesan. Setelah pertemuan itu, yang sangat membekas olehku, dan yang tak terbaca olehmu, aku kembali pada kehancuran.

Kemudian kesempatan itu kembali digariskan menemui kita, tetapi aku hampir tidak bisa meraihnya. Dan dengan segala kepasrahanku terhadap semesta, akhirnya aku bisa menemuimu. Kesempatan itu hadir terbalut dalam pertemuan besar. Kau harusnya tahu betapa aku menunggu dengan gundah ketibaanmu, namun hingga pada waktu yang ditentukan kau tak kunjung berada disana. Kupikir garis takdir dari kesempatan itu tak pernah bersinggungan yang artinya takkan ada pertemuan. Tetapi semesta punya cara lain untuk membuatku semakin jatuh kepadamu. Beribu syukur terucap dalam hati ketika akhirnya kau benar-benar wujud dihadapanku.

Aura bahagiaku saat itu tak mampu kubendung. Aku hilang fokus, sehingga ada hal konyol yang lolos dari pertahananku terlihat olehmu. Perlu kau ketahui, ada banyak hal-hal yang tak masuk akal yang aku alami sendiri ketika alasannya adalah kamu. Aku bahagia dan sedih sendiri. Aku tak mau membaginya dengan siapapun, karena aku takut jika ada yang tahu maka nantinya akan tersampaikan kepadamu dan kau berputar arah.

Aku semakin jatuh padamu, semakin dalam aku memendamnya, semakin terluka karenanya. Salahku, bukan salahmu. Kau tak tahu apa-apa, sebab memang kau takkan pernah tau. Tetapi seiring intensitas goncangan yang meluluhlantakkan perasaan dan pikiranku menguat. Aku merasa tak lagi mampu menanggungnya sendiri. Aku perlu membaginya dengan mereka yang mengetahui alur awalnya bagaimana, termasuk kau nantinya.

Tak ada penenang yang mujarab selain berkeluh kesah terhadapNya, namun sebagai manusia, aku butuh didengarkan oleh sesamaku juga. Hingga akhirnya aku membaginya dengan orang-orang terpercayaku. "It's time to tell them the truth", pikirku. Dan ya, benar saja, mereka memberiku saran yang sudah seharusya kuterapkan dari sejak lama. "Katakan saja padanya", begitu kata mereka. Aku ingin, sangat ingin. Tapi... jiwaku mengatakan "Belum saatnya".

Hingga akhirnya aku semakin memintaNya menunjukkan tentang bagaimana aku harus menyelesaikan semua kegundahan yang tak henti di tahun sebelumnya. "Aku ingin lega ya Tuhan, tidak mau hancur lagi sendirian. Cukupkanlah. Aku hanya ingin dia tahu bagaimana aku telah jatuh terlalu dalam dan telalu lama tapi tak mampu kusampaikan. Aku tenggelam hampir ke dasar. Aku belum mau mati karena sakit memendam rasa. Masih banyak yang belum selesai, jadi kuminta padaMu ya Tuhan, bantu aku menyelesaikan ini terlebih dahulu. Agar ringan langkahku menyelesaikan yang tersisa".

Hampir habis waktu berlalu di awal tahun ini, dan aku kian menjadi bingung. Terlalu banyak kesimpulan yang condong ke arah ketidakmungkinan menari-nari dipikiranku. Berkali-kali aku mengecekmu di aplikasi pesan instan. Hingga pada akhirnya, aku bermain nekat, menuliskan pesan dan mengirimkannya padamu. Dan kau membalasnya. Namun tak sesuai rencanaku, kau tak ada waktu. Tetap saja aku yang sedang sangat menggebu-gebu ingin menyatakan segalanya meski kutahu akan mengganggumu. Dan, ya, telah kukatakan segalanya. Tinggal menunggumu meresponnya saja. Setelahnya aku bisa tidur dengan nyenyak, suasana tidur yang telah lama tak kurasakan setahun belakangan. Akhirnya aku bisa melawan ego yang kugenggam selama bertahun-tahun itu. Aku bisa cukup dewasa menerima apapun yang akan kuterima kejadiannya.

Keesokannya aku ragu-ragu membuka balasan pesanmu. Tapi sepenuh jiwaku yakin bahwa aku akan baik-baik saja. Melihat dan membaca itu, ada rasa lega bahwa kau ternyata juga cukup dewasa menyikapinya. Ketakutanku selama ini hanya asumsi-asumsi yang ku pupuk penuh negativitas akhirnya mampu kuhadapi dengan normal-normal saja. Lalu kau meminta untuk bertemu, tapi aku belum mampu memenuhinya. Hatiku masih hancur meskipun lega. Sebab, tak akan mudah menghapusmu setelah selama ini kulukis mati-matian, segila-gilanya, sendirian. Gambaranmu dalam lukisan itu begitu indah dikenangan. Meski segala rasa yang ada hanya bisa kunikmati sendirian, rasaku padamu tetap akan kusimpan sampai waktu menetapkan ketentuannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alphabet Picture Cards

Unexpected Story

Curriculum